kursor

Blue Fire Pointer 

Friday, November 10, 2017

PERAN PEMIMPIN DALAM REALISASI PENINGKATAN MUTU PELAYANAN PUBLIK DAN REVITALISASI BIROKRASI YANG BERSIH - AGUS PRIANTONO NC



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang.
Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan secara ilmiah mulai berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manajemen ilmiah yang lebih dikenal dengan ilmu tentang memimpin. Hal tersebut terlihat dari banyaknya literatur yang mengkaji atau menggangkat tentang kepemimpinan dengan berbagai persfektif sudut pandang yang berbeda. Kepemimpinan tidak hanya dilihat dari keberhasilan memimpin serta metode yang digunakan dalam memimpin, akan tetapi lebih dilihat dari  pola fikir terencana serta penyiapan sesuatu secara efektif dan efisien serta dapat melatih calon-calon pemimpin.
Peran pemimpin dalam realisasi peningkatan mutu pelayanan publik serta dalam mewujudkan birokrasi yang bersih sangatlah penting. Bagaimana tidak, karena sesungguhnya seluruh faktor eksternal yang dapat meningkatkan pelayanan publik itu datang dari peran serta arahan seorang pemimpin, apalagi setiap pengambilan sebuah keputusan tertinggi adalah pada tangan pemimpin. Sehingga seorang pemimpin secara langsung dapat dikatakan sebagai leader dan tonggak utama keberhasilan yang dapat memimpin serta memotofasi dirinya dan orang lain tentunya dalam pelayanan publik.
Dalam penelitian Rosalia (2007) yang berjudul “Peran kepemimpinan Pemerintah Desa dan Otonomi Daerah Dalam Pelayanan Publik” penelitian tersebut dapat dikatakan salah satu subsistem atau contoh usaha perwujudan penyelenggaraan pemerintah dalam peningkatan mutu pelayanan publik, sehingga kewenangan mengatur dan mengurus ada di tangan pihak internal. Hasil yang didapat dari “Peran Pemimpin Dalam Realisasi peningkatan Mutu Pelayanan Publik Serta Orientasi Birokrasi Yang bersih”  (1). Bahwa pemimpin merupakan penentu efektifitas perwujudan  pelayanan publik. (2). Pengambilan keputusan tertinggi berada ditangan pemimpin.  (3). Bahwa pemimpin merupakan faktor keberhasilan dalam orientasi birokrasi yang jujur dan bersih. (4). Bahwa pemimpin dapat mencerminkan kepribadian serta dapat memberi motifasi yang baik untuk anggotanya untuk keberhasilan pelayanan yang baik. Dari hal diatas dapat dikatakan mutu pelayanan yang prima dalam pelayanan publik merupakan keberhasilan dari pemimpin yang ideal.
Peran kepemimpinan yang dimiliki oleh pemimpin itu, sesungguhnya mencerminkan model dan pola kepemimpinan yang diterapkan dalam mengelola sebuah wadah atau organisasi massa yang dipimpinnya. Ada sebagian kelompok pemimpin menerapkan praktik kepemimpinan yang berorientasi pada penyelesaian tugas. Pada golongan pemimpin ini, aspek-aspek individual ini kurang mendapat perhatian dan arahan. Peran ini menekankan apapun yang dilakukan bawahan dan bagaimanapun kondisi yang terjadi pada bawahan tidak menjadi masalah. Peran pemimpin demikian dapat mempengaruhi efektifitas dan dapat memperlambat proses realisasi pelayanan publik, tak lain efeknya akan berimbas kepada orientasi birokrasi yang prima atau tidak. Lingkungan kerja yang penuh tekanan akan berimbas pada hasil kerja dari kariawan-kariawannya, jika hal demikian terwujud dalam jangka waktu terlalu lama, maka tingkat absensi tinggi permintaan pindah antara unit kerja, bahkan pucuknya permintaan keluar dari instasi terkait, tak lain hal tersebut akan berimbas pula pada proses terrealisasinya pelayanan publik bahkan pelayanan  dan metode penerapan dalam konteks birokrasi akan semkin buruk dan hingga pada akhirnya terasa oleh masyarakat.
Sebagai agen of changes kita perlu merubah pola-pola seperti diatas, kepemimpinan seperti halnya ilmi-ilmu yang berkaitan dengan permasalahan dalam kepemimpinan dan memberikan pengaruh dalam menggunakan berbagai pendekatan dalam hubungannya dengan pemecahan aneka macam persoalan yang mungkin timbul dalam masa kepemimpinannya. Kepemimpinan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka proses adminitrasi publik, pelayanan publik serta revitalisasi birokrasi yang baik, hal tersebut merupakan contoh diantara fungsi kepemimpinan. Fungsi kepemimpinan merupakan salah satu implementasi atau penjabaran peranan dari administrator  dalam rangka mempengaruhi orang lain atau para bawahan agar mau dengan senang hati untuk mencapai tujuan organisasi sebgaimana telah ditetapkan dalam visi misi yang telah disepakati sebelumnya.
Peran pemimpin pada dasarnya merupakan Revitalisasi dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi simna proses Revitalisasi dalam kepemimpinannya.  Bertolak dari pemahaman diatas, maka sesorang pemimpin adalah sesorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok yang di pimpinnya untuk malakukan perwujudan kerja yang baik dalam proses internal maupun eksternl kerja. Organisasi atau sebuah instansi dapat berjalan deengan baik apabila di dalamnya trdapat pola fokir pemimpin yang idal untuk maju serta mengutamakan mutu pelayanan yang baik dalam proses birokrasinya. Tentu pemimpin yang baik akan mnempatkan bawahannya pada posisi keahlian yang dimiliki individu tersebut, perekrutan orng yang memiliki keterampilan lebih tentu di utamakan, ketepatan teknis kaerja yang baik akan berdampak pada hasil yang diinginkan,pmikiran dan tujuan terkonsep dan sistematis akan membuat tujuan lebih mudah terreealisasi.
Sedangkan bawahan merupakan sekelompok orang yang selalu siap siaga akan perintah dan intruksi dari seorang leader, tak luput dari kerja keras anggota keberhasilan tak akan terwujud jika arahan dari pemimpin diabaikan oleh seegelintir bawahan. Dalam suatu organisasi peranan anggota sangatlah strategis dimana fungsinya berbgi macam, karena suksesnya sebuah organisasi akan terwujud jika fungsi dan peranan masing masing dapat dikontrol seuai kewenangan yang diberikan. Dengan demikian ketiga unsur yang mempengaruhi gaya atau peran kepemimpinan tersebut yaitu pemimpin, bawahan, dan situasi merupakan unsur yang saling berkaitan satu sama lain, dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan.
B.       Rumusan Masalah.
Secara umum makalah ini dibahas untuk menggagkat problemtik atau sebuah masalah internal publik dalam proses pelayanan dan sistem tata cara birokrasi oleh birokrat itu sendiri. Hubungan simetris adalah hubungan suatu gejala-gejala yang timbul bersamaan antara poin-poin terkait sehingga bukan merupakan hubungan sebab akibat.
Dari judul yang di angkat “Peran Pemimpin Dalam Realisasi Peningkatan Mutu Pelayanan Publik Dan  Revitalisasi Birokrasi Yang Bersih”         terdapat poin pokok yang perlu dibahas terkait tujuan yang belum terrealisasikan, diantaranya:
A.      Seperti apakah peranan pemimpin dalam mencapai peningkatan mutu pelayanan?
B.       Bagaimana proses Realisasi atau  Peningkatan Mutu Pelayanan Publik?
C.       Seperti apa bentuk  Revitalisasi Birokrasi yang baik?
D.      Seperti apa peran pemimpin dalam merealisasikan mutu pelayanan dan Revitalisasi Birokrasi yang baik.
C.      Batasan masalah.
Dalam makalah yang mengangkat judul “Peran Pemimpin Dalam Realisasi Peningkatan Mutu Pelayanan Publik Dan Revitalisasi Birokrasi Yang Bersih” ini penulis hanya membahas peran-peran yang di miliki oleh pemimpin dalam perealisasian peningkatan mutu, kamudian dapat membedakan birokrasi yang baik ataupun tidak untuk kemajuan organisasi yang dipimpinnya, diluar pembahasan tersebut banyak yang belum tersampaikan sebab waktu dan pola fikir penulis belum tercurahkan seutuhnya dalam makalah atau karya tulis ilmiah ini guna memenuhi tugas kuliah. Selain dari pada itu ketepatan waktu dalam penyelesaiannya dibutuhkan maka hanya membahas peranan dari seorang pemimpinnya saja.
D.      Manfaat
Dalam sub ini pembahasan manfaat dari pembuatan makalah ini terbagi dalam tiga,di antaranya untuk:
1)        Peneliti/penulis.
a.    Menambah wawasan dan pengalaman terkait pembuatan karya ilmiah.
b.    Menambah refrensi serta informasi tentang paham sistem organisasi.
c.    Menambah pengetahuan akan fungsi kepemimpinan dalam mengambil keputusan.
d.   Meneliti proses yang terjadi dalam perealisasian mutu pelayanan dan birokrasi.
2)      Pemerintah.
a.    Dapat mengubah pola fikir yang dapat merugikan kalangan bawah.
b.    Dapat membedakan keputusan baik atau buruk untuk sebuah organisasi.
c.    Sebagai bahan untuk penyampaian saran atau sanggahan kinerja.
3)      Masyarakat.
a.    Setelah membaca karya tulis ini masyarakat mendepat pengetahuan agar dapat mengoreksi kinerja pemerintahan didaerahnya apakah sudah efektif ataupun belum.
b.    Menjadi tolok ukur keberhasilan yang dicapai pemerintah sekitarnya.
c.    Mendapatkan paham dan wawasan kepedulian akan orang lain dari pada kepentingan pribadi.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Peran pemimpin dalam mencapai mutu pelayanan yang baik
Dalam setiap organisasi apapun baik itu kelompok besar atau kecil,baik secara formal ataupun non-formal pasti dibutuhkan sesorang yang bertindak sebagai pemimpin organisasi. Kebutuhan terhadap pemimpin dan peranannya tak bisa dipungkiri lagi sebab pemimpin merupakan faktor yang menentukan keberhasilan sebuah organisasi.
Memahami konsep dasar kepemimpinan merupakan suatu keharusan bagi setiap pemimpin yang menginginkan keberhasilan dalam kepemimpinannya, terlebih lagi organisasi Negara yang harus melayani kepentingan masyarakat dengan optiman serta dibutuhkan peforma penuh baik dalam bentuk birokrasi atau apapun. Sebelum melangkah lebih jauh terlebih dahulu penulis mencoba mengemukakan pengertian dasar tentang proses kepemimpinan. Pengertian ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk membatasi ruang lingkup yang akan di bahas.
Pigors (2009:2), mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses saling mendorong melalui keberhasilan interaksi dari perbedaan-perbedaan individu, mengontrol daya manusia dalam mengerjar tujuan bersama. Sedangkan menurut G.U. Cleeton dan C.W. Mason (1934) dalam Drs. Inu Kencana 2009, beliau mengatakan kepemimpinan dalah bagaimana cara untuk menunjukan kemampuan mempengaruhi orang-orang dan mencapai tujuan melalui himbauan emosional dan ini lebih baik dibandingkan sengan melalui penggunaan kekuasaan.
Robert house juga menyampaikan bahwa kepemimpinan yang efektif mempergunakan dominasi, memiliki keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas yang tinggi untuk meningkatkan kadar karismatiknya (Ivancevich,dkk, 2008:213). Sedangkan AL-Banjari (2008:5) dalam buku Prophetic Leadreship, mengatakan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan tindakan atau kemampuan untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain sebgai pengikut dalam usaha bersama mencapai tujuan.
Dari tiga definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah kepemimpinan adalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang di pimpin untuk mencapai tujuan bersama, bauk dengan cara mempengaruhi, taupun mengajak orang lain sebagai pengikut dalam usaha bersama dalam mencapai tujuan.
Berdasarkan definisi-definisi yang dibahas, kepemimpinanmemiliki beberapa implikasi, antara lain:
o   Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (folowers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan serta kesadaran emosional untuk menerima arahan tadi pimpinan. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan, tak akan ada pimpinan.
o   Seorang pemimpin yang ideal adalah sesorang yanag mengunakan kekuasaannya  (his or herpower) mampu mengunggah semngat pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Para pemimpin dapat mengunakan bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi bawahan dalam berbagai situasi.
o   Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendri (integrity), sikap bertanggungjawab yang lurus (compassion), pengetahuan (congnizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi.

1.      Ciri-ciri Kepimimpinan Yang Baik
WA. Gerungan menjelaskan bahwa sesorang pemimpin paling tidak harus memiliki tiga ciri, yaitu:
o  Pengelihatan sosial.
Artinya suatu kemampuan untuk melihat dan mengerti gejala-gejala yang timbul dalam mastarakat sehari-hari.
o  Kecalapan berfikir abstrak.
Dalam arti sesorang pemimpin harus mempunyai otak yang cerdas, intelegensi yang tinggi. Jadi sesorang pemimpin harus dapat menganalisa dan menuntaskan adanya gejala yang terjadi dalam kelompoknya, sehingga bermanfaat dalam tujuan organisasi.
o  Keseimbangan emosional.
Orang yang mudah naik darah, membuat ribut menandakan kontrol emosionalnya belum mantap dan tidak memiliki keseimbangan emosional. Orang yang demikian tidak dapat menjadi pemimpin sebab sesorang pemimpin sebab seorang pemimpin harus mampu membuat suasana tenang dan senang. ,aka sesorang pemimpin harus memiliki kontrol emosional yang seimbang.

2.      Etika Kepemimpinan
Etika adalah prilaku berstandar normatif berupa nilai-nilai moral, norma-norma, hal-hal yang baik. Etika difungsikan sebagai penuntun dalam bersikap dan bertindak menjalankan kehidupan menuju ketingkat keadaan yang lebih baik. Sedangkan Noer juga berpendapat bahwa etika adalah ajaran (normatif) dan pengetahuan (positif) tentang yang baik dan yang buruk, menjadi tuntutan untuk mewujudkan yang lebih baik.
     Kepemimpinan beretika akan membuat suasana hubungan kerja dalam organisasi lebih nyaman san terhindar dari konflik internal maupun konflik eksternal. Sebab pelaku-pelaku organisasi menyadari keberdaan pedoman dan penuntun berupa perinsip-perinsip etika yang membatasi ruang gerak bersikap dan bertindak.
Adapun etika dalam kepemimpinan yakni:
·      Menjaga perasaan orang lain.
·      Memecah masalah dengan demograsi dan menerima apresiasi atau usulan bawahan.
·      Mengambil sebuah keputusan untuk kepentingan bersama.
·      Menghindari pemaksaan kehendak tetapi menghargai usulan orang lain.
·      Mengutamakan keseimbangan forum untuk sebuah keputusan.
·      Menaggapi isu-isu serta masukan dengan cepat, serta sesuai keahlian dan tujuan.
·      Menyadari kesalahan dan berusaha untuk memperbaiki (improving value).
·      Mengedepankan sikap jujur, disiplin, dan dapat dipercaya.

3.      Fungsi-fungsi Pemimpin
Fungsi kepemimpinan meliputi kegiatan dan tindakan sebagai berikut:
·      Pengambilan keputusan.
·      Pengembangan imajinasi.
·      Pendelegasian wewenang kepada bawahan.
·      Pengembangan kesetiaan pada bawahan.
·      Pemraksaraan, penggaitan, dan penggendalian rencana-rencana.
·      Pemanfaat sumber daya manusia dan sumber-sumber lain.
·      Pelaksanaan keputusan dan pemberi dorongan serta pengarah kepada para pelaksana.
·      Pelaksana kontrol dan perbaikan kesalahan.
·      Pemberi apresiasi kepada bawahan yang berprestasi.
·      Penanggungjawab semua tindakan organisasi.
·      Sebagai cerminan dan pedoman oleh bawahan.



Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kepemimpinan dapat berperan dengan baik, diantaranya:
a.       Yang menjadi dasar utama dalam efektivitas kepemimpinan bukan pengangkatan atau penunjuknya, melainkan penerimaan orang lain terhadap kepemimpinan yang bersangkutan.
b.      Efektivitas kepemimpinan tercermin dari kemampuannya untuk tumbuh dan berkembang.
c.       Efektivitas kepemimpinan menuntut kemahiran “membaca” situasi.
d.      Prilaku sesorang tidak terbentuk begitu saja, melainkan melalui pertumbuhan dan perkembangan.
e.       Kehidupan organisasi yang dinamis dan serasi dapat tercipta bila setiap anggota mau menyesuaikan cara berfikir dan bertindaknya, dan untuk mencapai tujuan organisasi.

Dalam kepemimpinan ini terdapat hubungan antar manusia, yaitu hubungan mempengaruhi (dari pemimpin) dan hubungan kepatuhan, ketaatan para pengikut/karyawan karena terpengaruh oleh kewibawaan pemimpin. Para pengikut terkena pengaruh kekuatan dari pemimpinnya, dan bangkitlah secara spontan rasa ketaatan pada pemimpin.
Sehingga dapat dikatakan kepemimpinan merupakan suatu proses pengaruh sosial dimana pemimpin mengusahakan partisipasi sukarela dari para bawahan atau bekerjasama dalam suatu usaha dengan cara pemberian visi, semangat, antusiasme, kasih, kepercayaan, kegiatan, nafsu, obsesi, konsistensi,motifasi, apresiasi, serta pengunaan simbol, perhatian untuk sebuah tujuan baik demi kelangsungan organisasi tersebut.

4.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Mutu Pelayanan Dari Seorang Pemimpin.
Dalam menciptakan kesejahteraan yang ditopang oleh peran seorang pemimpin dadam kepemimpinannya meningkatkan mutu pelayanan publik yang baik dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah lingkungan, tingkat pendidikan, dan kualitas pemimpin, fungsi etika dan moral, sarana dan prasarana, kerja  sama masyarakat, serta adanya aturan birokrasi yang jelas. Artinya, pendidikan dan kualitas pemimpin syarat minimalnya adalah harus membutuhkan pendidikn dan pengetahuan yang tinggi, seorang pemimpin dapat dikategorikan memiliki pengetahuan yang mumpuni, serta memiliki tingkat pendidikan dan kualitas, sehingga masyarakat dapat memberi masukan dan bisa mengambil peran dalam pengambilan kebijakan.

Di samping itu menjalankan tugas sebagai seorang pemimpindi harapkan agar menjaga etika dan moral karena dengan begitu maka kita dapat mengetahui batasan mana yang baik atau perlu untuk dilakukan dan mana yang perlu diperbaiki dalam membrikan sebuah pelaynan, selain itu, pelaksanaan kepemimpin dalam peningkatan mutu pelyanan publik perlu didukung adanya sarana dan prasarana serta sumber daya kariawan yang memiliki moral yang baik dalam melayani, serta aturan birokrasi kantor yang baik.
     Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi penar kepemimpinan dalam meningkatkan mutu pelayanan publik oleh seorang pemimpin adalah tingkat pendidikan, kualitas pemimpin, masyarakat, etika, moral, sarana dan prasarana, kerjasama, serta aturan birokrasi yang jelas.

5.      Mengatasi Hambatan Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan
Di dalam menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin tentu saja banyak hambatan yang dihadapi, tetapi semua itu sudah menjadi resiko untuk bisa menghadapi hambatan dengan memecahkan masalah bersama-sama dalam meningkatkan mutu pelayanan yang baik. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya yaitu pemimpin harus melakukan kontrol penuh terhadap kinerja bawahannya, mengatur sistem birokrasi kantornya, sehingga setiap kesalahan yang dilakukan oleh setiap pegawainya dalam proses pelayanan dapat diatasi dengan sigap dan tepat.

     Selain itu pemimpin juga harus bisa membangun hubungan harmonis dalam ruang lingkup kantor baik itu interaksi langsung maupun tidak langsung, kemudian pemimpin juga diharuskan dapat menjalin hubungan baik diantara stansi-stansi lain untuk berkerjasama dalam sabuah tujuan. Disamping itu juga pemimpin berusaha aktif dalam kegiatan dan meelakukan improvisasi atau mengikuti perubahan dalam peningkatan mutu pelayanan yang memuaskan, maka kesadaran masyarakat terhadap tanggungjawabnya serta rasa solidaritas tentunya akan terbangun. Dengan demikian partisipasi masyarakat dalam proses pemerintahan akan mulai terlihat.


B.       Realisasi Peningkatan Mutu Pelayanan Publik
Seiring perkembangan zaman serta pola fikir kehidupan moderen, kebijakan dan proses berpolitik juga akan berubah. Berbicara tentang penurunan kualitas mutu, tentu menarik untuk dibahas kinerja pemerintahan. Maka pada pembahasan ini penulis lebih menekankan pembahasan terhadap  mutu pelayanan publik yang tentunya terkena imbas perubahan kehidupan moderen ini. oleh sebab itu  perlu kita pahami terdahulu tema yang akan di bahas satu persatu dan pada akhirnya penulis akan menarik kesimpulan dari akhir pembahasan.

1.      Realisasi.
Realisasi merupakan suatu proses untuk menjadikan sesuatu rencana (pleaning) menjadi sebuah perwujudan yang nyata. Selain dari pada itu realisasi juga dapat diartikan sebagai sebuah usaha atau sebuah tindakan dalam mencapai tujuan yang di harapkan. Dari pembahasan diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa realisasi adalah semua cakupan proses usaha atau tindakan serta perwujudan nyata sebuah cita-cita yang direncanakan sebelumnya untuk sebuah kepentingan.
2.      Peningkatan
Peningkatan dapat menggambarkan perubahan keadaan atau sifat dari segi negatif berubah menjadi positif, atau lebih dikatakan perubahan kearah yang lebih baik. Hasil dari sebuah peningkatan dapat berupa kuantitas dan kualitas. Kuantitas adalah jumlah hasil dari sebuah proses atau dengan tujuam peningkatan, sedangkan kualitas menggambarkan nilai-nilai dari suatu objek karena terjadinya proses yang memiliki tujuan peningkatan.
3.      Mutu
Russel (dalam Purnama, 2006:14-15) menyatakan terdapat dua perspektif dalam mendefinisikan mutu.
·         Perspektif pertama, Producer’s perspective. Menurut perspektif ini kualitas produk dikaitkan dengan standar produksi dan biaya. Artinya produk dinilai berkualitas jika memiliki kesesuaian terhadap spesifikasi dan memenuhi persyaratan biaya.
·         Perspektif kedua, Consumer’s perspective. Menurut perspektif ini kualitas produk dikaitkan dengan desain dan harga. Artinya kualitas produk dilihat dari karakteristik kualitas dan harga yang ditentukan. Menurut kedua perspektif tersebut, kualitas produk dapat tercipta jika terjadi kesesuaian antara perspektif produsen dengan perspektif konsumen yang disebut dengan kesesuaian untuk digunakan (fitness for consumer use).
4.      Pelayanan
·      Norman dalam buku Mustifa (2012), mengatakan jika tidak berwujud tetapi bisa dirasakan sifatnya tidak dapat diraba barang jadi terdari dari tindakan nyata yang mempengaruhi tindakan sosial.
·      Menurut Kotler dalam buku Mustifa (2012), mengatakan pelayanan adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik,.
·      Sementara dalam (KBBI) Kamus Besar Bahasa Indonesia mengatakan bahwa pelayanan merupakan cara atau hasil pekerjaan melayani.
Dari ketiga definisi diatas dapat ditadik kesimpulan bahwan maksud dari kata pelayanan merupakan sebuah usaha sesorang dalam memberikan jasa pelayanan terhadap orang lain  kemudian menawarkan  kepuasan terhadap orang yang dilayani.

5.      Publik
·      Dilihat dari sisi triminologi istilah publik berasal dari kata inggris yaitu public yang berarti umum, masyarakat, negara. Kata publik sudah diterima sebagai bahasa Indonesia baku menjadi publik berarti umum, orang banyak, dan ramai.

Pelayanan Publik
Sentosa (2008, hlm, 57) pelayanan publik adalah pemberian jasa, baik oleh pemerintah, pihak suasta, atas nama pemerintah atau pihak swasta kepada masyarakat, dengan atau tanpa pembayaran guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat.
Menurut Endang (2008) dalam websitenya mengatakan pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar sesuai dengan hak-hak sipil setiap warga negara dan penduduk atas suatu barang dan jasa atau pelayanan adminitrasi yang diselenggarakan oleh penyelenggara kepada publik.
Dengan demikian dapat saya simpulkan bahwa pelayanan publik adalah pemberian jasa atau pelayanan administratif, baik oleh pemerintah, pihak suasta atas nama pemerintah, atau pihak swasta kepada masyarakat sesuai aturan administrasi yang berlaku tanpa dipungut biaya sepeser pun guna memenuhi dan atau kepentingan masyarakat.


C.    Bentuk  Revitalisasi Birokrasi
1.      Revitalization (revitalisasi), diartikan sebagai proses penggiatan kembali/penghidupan kembali organ yang kurang berfungsi agar sistem yang ada dalam tubuh dapat berjalan normal kembali. Apabila ada organ tubuh manusia tidak berfungsi, maka perlu dilakukan revitalisasi agar organ tersebut berfungsi kembali sehingga tidak mempengaruhi organ tubuh lainnya
2.      Birokrasi
Birokrasi berasal dari kata bureaucracy (bahasa inggris bureau + cracy), diartikan sebagai suatu organisasi yang memiliki rantai komando dengan bentuk piramida, di mana lebih banyak orang berada ditingkat bawah daripada tingkat atas, biasanya ditemui pada instansi yang sifatnya administratif maupun militer.
3.      Bentuk Revitalisasi Birokrasi
Birokrasi di Indonesia pada dasarnya dirancang sebagai birokrasi yang rasional
dengan pendekatan sturktural-hirarkikal mengikuti tradisi Weberian. Pemikiran Weber banyak dipengaruhi oleh teori administrasi Jerman (tentang administrasi monokratik versus kolegial), dan juga pemikiran dari para pemikir besar lainnya pada abad itu seperti Michels (tentang netralitas dan hubungan demokrasi-birokrasi), Karl Marx (tentang kesetaraan posisi atasan dan buruh), dan Gustav Schmoller
(tentang konsep staf dalam tiga bagian masyarakat) (lihat: Albrow, 1983). Dalam menulis tentang birokrasi, Weber membedakan antara konsep birokrasi patrimonial yang berfungsi berdasarkan nilai-nilai tradisional yang tidak memisahkan antara tugas dan wewenang serta tanggung jawab resmi kedinasan dengan urusan pribadi pejabat yang mengelola birokrasi- dengan birokrasi modern (rasional-legal) yang mempunyai ciri-ciri tertentu seperti sepesialisasi, berdasarkan pada hokum, pemisahan antara tugas, wewenang dan tanggung jawab resmi kedinasan dengan urusan pribadi, hirarki, manajemen kantor yang modern yang didasarkan pada dokumen tertulis.
Menurut Heady dan Wallis (dalam Kartasasmita, 1997) misalnya, birokrasi
pemerintahan di negara-negara berkembang ditandai dengan beberapa kelemahan yang juga merupakan ciri utamanya

·         Pertama, pola dasar (basic pattern) sistem administrasi negaranya merupakan tiruan atau jiplakan darisistem administrasi kolonial yang dikembangkan negara penjajah khusus untuk negara yang dijajahnya. Biasanya, pola administrasi negara yang diterapkan negara penjajah di negara yang dijajah bersifat elitis, otoriter, cenderung
terpisah (sebagai menara gading) dari masyarakat dan lingkungannya. Selain sifat-sifat di atas, dalam birokrasi kita juga dapat dijumpai nilai patron–client yang menempatkan aparatur sebagai pihak yang dilayani dan masyarakat
sebagai pihak yang melayani.
·         Kedua, birokrasi pemerintahan kekurangan sumberdaya manusia yang berkualitas baik dari segi kepemimpinan, manajemen, kemampuan dan keterampilan teknis yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Sebaliknya, kondisi yang sering dijumpai adalah banyaknya sumber daya manusia yang kurang berkualitas dengan pembagian tugas yang tidak jelas. Akibatnya, tidak saja terjadi inefsiensi dalam penggunaan sumberdaya manusia, tetapi juga terjadi penumpukkan pegawai dalam satu unit kerja atau instansi.
·         Ketiga, birokrasi cenderung mengutamakan atau berorientasi pada kepentingan pribadi atau kelompok dari pada kepentingan masyarakat atau pencapaian sasaran yang bermanfaat bagi masyarakat banyak. Kelompok ini selain berada di lingkungan internal birokrasi juga yang berada di luar birokrasi dan diuntungkan oleh birokrasi.
·         Keempat, apa yang dinyatakan baik tertulis maupun lisan oleh birokrasi sering tidak sesuai denganrealitas. Misalnya dalam laporan resmi disebutkan kinerja instansi X dilaporkan secara resmi telah membaik, tetapi pada kenyataannya tidak demikian. Contoh lain, peraturan tertentu dikeluarkan hanya untuk kebutuhan politis (membuat kesan bahwa pemerintah memperhatikan masalah tersebut), dan bukan untuk dilaksanakan dikarenakan kesulitan tertentu atau juga tidak/kurang adanya political will untuk melaksanakannya.
·         Kelima, birokrasi cenderung bersifat otonom dalam arti lepas dari proses politik dan pengawasan masyarakat. Ciri ini erat kaitannya dengan ciri pertama di atas. Dalam hal ini, birokrasi seakan-akan menjadi menara gading yang tidak tersentuh. Ia bisa memutuskan apa saja tanpa merasa perlu memperhatikan dan mengajak pihak lain (stake holders) untuk merumuskannnya


D.    Peran Pemimpin Dalam Merealisasikan Mutu Pelayanan dan Revitalisasi Birokrasi
Peran pemimpin dalam membangun kepercayaan publik mencakup lingkup internal yang berkaitan dengan upaya menggerakkan dan memastikan seluruh sumberdaya aparatur berkinerja tinggi, dan lingkup eksternal organisasi dalam upaya mencermati harapan masyarakat dan komunikasi eksternal baik menyangkut ukuranukuran kinerja pelayanan (public service measures) yang ditetapkan, upaya yang telah, sedang dan akan dilakukan, maupun kinerja pelayanan yang telah dihasilkan. Dalam konteks organisasi publik, kepemimpinan lebih merupakan ‘kepemimpinan formal’ dalam arti pemimpin merupakan orang yang diangkat dan dikukuhkan untuk menduduki jabatan tertentu.
Dari berbagai penjelasan di atas tadi dapat saya tarik sebuah kesimpulan tentang pemahaman serta maksud pengangkatan judul makalah saya “Peran Pemimpin Dalam Merealisasikan Mutu Pelayanan dan Revitalisasi Birokrasi” bahwa peran seorang pemimpin yang idelal dam bijaksana serta dapat menjadi contoh bawahan dalam mencerminkan kepribadian yang baik. Selain dari itu kewibawaan seorang pemimpin juga menjadi penunjang dalam kemajuan dan keselarasan struktur kerja, membangun komunikasi antara anggota intansi dan staf juga menjadi bagian utama.
Perkembangan saat ini yang dibutuhkan pekerja adalah harapkan penghargaan, didengarkan, mendapatkan kebebasan, dilibatkan dalam proses, mendapatkan kesempatan berkembang, mendapatkan informasi mengenai organisasinya, aktif dalam pembuatan keputusan, mendapatkan bagian dari keuntungan organisasi dan mendapatkan pelayanan yang memadai. Tantangan untuk menjadi pemimpin yang melayani adalah dalam tataran kesanggupan untuk memulai dengan melakukan perubahan sikap, cara pandang, dan perilaku terlebih dahulu.
Alasan mendasar mengapa pelayanan publik harus diberikan adalah adanya “public interst” atau kepentingan publik harus dipenuhi oleh pemerintah karena pemerintahlah yang memiliki “tanggung jawab” atau responsibility. Dalam memberikan pelayanan ini pemerintah dharapkan secara profesional melaksanakannya, dan harus mengambil keputusan politik secara tepat mengenai siapa mendapat apa, berapa banyak, dimana, kapan, dan sebagainya. Banyak kasus membuktikan ahwa kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, partai dan bahan struktur yang lebih tinggi justru mendikte perilaku seorang birokrat atau aparat pemerintah (Nicholas H.,(1999:233-236).


Selain itu pemimpin berperan untuk mengubah informasi menjadi pernyataan kebijakan (petujuk). William N. Dunn(2001), membagi delapan bentuk atau cara untuk mmengubah informasi menjadi pernyataan kebijakan, yaitu sebagai berikut:
1.      Cara otoritatif, pernyataan kebijakan didasarkan pada argmuen dari pihak yang berwenang. Informasi  dirubah menjadi informasi tas dasar asumsi tentang setatus yang dicapai ataupun diperoleh pembuat informasi.
2.      Cara statistik, pernyataan kebijakan didasarkan pada argumen yang diperoleh dari sampel. Informasi dirubah menjadi pernyataan atas dasar asumsi bahwa apa yang benar bagi para anggota sampel juga benar bagi seluruh anggota populasi yang tidak tercakup oleh sampekl itu.
3.      Cara klasifikasional, pernyataann kebijakan didasarkan pada argumen yang berasal dari argumen keanggotaan. Informasi dirubah  menjadi pernyataan kebijakan atas dasar asumsi bahwa apa yang benar bagi suatu kelas individu ataumepun kelompok yang merupakan anggota kelas yang bersangkutan.
4.      Cara intuitif, pernyataan yang didasarkan pada argumen yang berasl dari bathin (insight). Informasi dirubah menjadi pernyataan kebijakan atas dasar asumsi tentang situasi mental dalam (inner-mental states) dari pembuat informasi tersebut
5.      Cara analisentrik, peryataan didasarkan pada argumen ang berasal dari metode. Informasi dirubah menjadi pernyataan atas dasar asumsi tentang validitas metode atau aturan yang diterapkan oleh analis.
6.      Cara eksplanatori, pernyataan dibuat atas dasar argumen yang dibuat dari suatu penyebab. Informasi di ubah menjadi pernyataan atas dasar asumsi tentang adanya kekuatan penyebab terebab tertentu (causes), dan hasilnya (effects).
7.      Cara pragmatis, pernyataan didasarkan dari argumen yang berasal dari motivasi, kasus parallel atau analogi.informasi dirubah menjadi pernyataan atas dasar asumsi tentang daaya pengaruh tujuan, nilai dan dorongan; asumsi tentang kesaamaan antara dua kasus pembuatan kebijakan.
8.      Cara kritik nilai, pernyataan didasarkan pada argumen yang berasal daari etika. Informasi dirubah menjadi pernyataan atas dasar asumsi tentang kebenaran atau kekeliruan, kebaukan atau kejelekan dari kebijakan dan konsekuensi.


Revitalisasi memiliki peran penting untuk sebuah perubahan  birokrasi dengan sedikit atau banyak alasan memang harus dilakukan.  Ada lima faktor yang mendorong revitalisasi peran birokrasi  mutlak dilakukan, yakni tuntutan otonomi , demokratisasi politik, pertumbuhan kelas menengah kritis, globalisasi ekonomi liberal, dan perubahan paradigm manajemen lembaga politik. Dengan melihat kelima faktor ini, tuntutan kebijakan revalisasi birokrasi di daerah menjadi tidak bisa ditunda-tunda lagi.
Perubahan-perubahan itu membuat birokrasi lama yang berorientasi kekuasaan dan cenderung menjadi instrumen kekuasaan pemerintah tidak lagi memadai. Sebaliknya, dituntut peran birokrasi baru yang efektif, efisien, berorientasi pada kepentingan masyarakat dan bertanggung jawab pada masyrakat serta responsif terhadap perubahan. Untuk itu, serangkaian kebijakan harus dilakukan, agar otonomi daerah bisa berjalan maksimal sehingga hasilnya bisa dinikmati oleh masyarakatnya. Kebijakan revitalisasi birokrasi juga diharapkan dapat mempercepat pemerataan pembangunan di daerah



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kepemimpinan adalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang di pimpin untuk mencapai tujuan bersama, bauk dengan cara mempengaruhi, taupun mengajak orang lain sebagai pengikut dalam usaha bersama dalam mencapai tujuan. Kemudian pembahasan paling mendasar adalah bagaimna seorang pemimpin berperan dalam peningkatan mutu pelayanan maka dari itu harus dipahami apa yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut. Salah satunya etika, etika adalah prilaku berstandar normatif berupa nilai-nilai moral, norma-norma, hal-hal yang baik.
Etika difungsikan sebagai penuntun dalam bersikap dan bertindak menjalankan kehidupan menuju ketingkat keadaan yang lebih baik. Sedangkan Noer juga berpendapat bahwa etika adalah ajaran (normatif) dan pengetahuan (positif) tentang yang baik dan yang buruk, menjadi tuntutan untuk mewujudkan yang lebih baik.

Seorang pemimpin juga harus memiliki kesadaran akan fungsi yang dipegagnya. Dengan demikian fungsi-fungsi serta peran nya akan berjalan dengan baik sehingan dampaknya akan baik pula.
Kemudian realisasi peningkatan mutu pelayanan juga diperlukan sekarang ini, tak bisa dipungkiri bahwa pelayanan publik serta sistem birokrasi indonesia sat ini memang peru di perbaiki. Seperti yang kita lihat dan kita rasakan, disetiap kantor instansi-instansi pemerintahan saat kita dilayani pasti ada pemungutan biaya padahal dalam sistem birokrasi sudah jelas dikatakan bahwa birokrasi dilaksanakan untuk kepentingan rakyat tanpa memungut biaya sepeserpun.
Oleh sebab itu penutupan makalah ini perlu saya sampaikan bahwa peran pemimpin disetiap instansi pemerintah ataupun suasta, sanagtlah penting, sebab wewenang dan fungsi pemimpinnya sangat diperlukan untuk pengawasan dan perubahan konsep penerapan sistem birokrasi yang perlu diperbaiki tersebut. Arahan dan ketegasn seorang pemimpin akan membawa negara ini mewejudkan Revitalisasi Birokrasi menuju Indonesia Maju.

B.     Saran
Negara ini milik kita semua”Bangsa Indonesia” kenapa harus kita hancurka dengan sistem internel kita sendiri, jika sistem pelayanan publik dan sistem birokrasi yang tidak jelas tetap diterapkan sama artinya masyarakan Indonesia masih terjajah. Oleh sebab itulah saya mengangkat permasalahan ini untuk menyadari pembaca serta calon-calon penerus bangsa agar bisa berbuat atau berubah menjadi lebih baik, kalaau bukan kita siapa lagi.
Perubahan ada ditangan kita, bagi setiap mahasiswa kitadikatakan sebagai agen of changes maka perlu kita buat perubahan kedepannya, hapus sistem yang buruk dan bangun birokrasi dan pelayanan yang baik agar kepentingan dan aspirasi setiap masyarakat dapat ditampung dan direalisasikan, tak lain tak bukan sebagai bagian dari sistem pemerintahan tugas utamanya adalah pelayanan tentu sebuah pelayanan orang yang dilayani perlu dan haus akan kepuasan maka dari itu letakan orang yang berkompeten di segi pelayanan. Dalam arti lain seorang pemimpin dapat menempatkan bawahannya sesuai dengan kinerja dan potensi yang dimiliki pada posisi yang tepat.




DAFTAR PUSTAKA
Sumber buku:
Kartono, kartini, 2010, Pemimpin dan Kepemimpinan, Apakah Kepemimpinan Itu?, rajawali
Pres, Jakarta.
Mustofa, 2012. “Filosofi Pelayanan Publik” Setara Press Malang
Mikael, Dowansiba. Motivasi dan Etika Kepemimpinan Dalam Menunjang Kinerja
pegawai. Pers Yogjakarta. 2010.
Pigors, Kepemimpinan Pemerintah Indonesia. Pt Reflika Aditama. 2009.
Dunn, N.W. 2000. Pengantar Analisisn Kebijakan Publik, II. Yogyakarta: Penerbit Gajah
Mada University Press.
Sadhana Kridawati. 2010. Etika Birokrasi Dalam Pelayanan Publik. I. CV Citra Malang
Hal.189-192.
Jurnal:
Rezha, F, Siti dan Rochmah, dan Siswidiyanto. 2008. Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan
Harianti N, danTaher dan Alhabsy Soekarto. 2014. Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap
Kepuasan Publik Di Kantor radio  Republik Indonesia, Malang. pelayanan publik., vol 2. No.1 (online) http://fisip.umsida.ac.id/tinymcpuk/gambar/file/02.%20Nunuk,%20Taher%26Soekarto(1).pdf


No comments:

Post a Comment